Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
Saya bertanya ke (insan-)monyet itu, “Mengapa kalian begitu baik, begitu ramah? Setiap kali melihat saya, kalian menundukkan kepala dan berkata, ‘Semoga Anda sehat.’ Mengapa?” Dan mereka menjawab, “Karena Anda adalah Yang Maha Mulia.” (Wah.) Saya berkata, “Siapa yang beritahu itu?” Mereka berkata, “Kami tahu.”
Insan-satwa sangat cerdas. Insan-gajah mengingat sesuatu selama bertahun-tahun. Insan-anjing dapat memahami perasaan Anda hanya dengan melihat Anda. Insan-lumba-lumba sering menolong manusia yang dalam bahaya di laut. Dan insan-sapi, -babi, dan -ayam memiliki emosi dan ikatan yang kuat dengan keluarga manusia mereka. Guru Agung Ching Hai membuat semua insan-hewan merasa aman dan dicintai. Mereka menghargai kebaikan dan persembahan makanan lezat-Nya.Master: Insan-monyet itu istimewa karena mereka baru datang. Saya tidak perlu mengurus mereka. Saya hanya meletakkan beberapa buah dan kentang, ubi jalar, dan jagung di luar, yang mereka sukai. (Ya.) Dan mereka datang untuk makan kapan pun mereka mau. (Ya, Guru.) Saya tidak bisa menolaknya karena saya punya cukup makanan untuk dimakan dan mereka tidak. Dan mereka datang ke rumah saya, bukan rumah saya, tapi di luar, jadi saya harus menjamu mereka.Jadi saya bilang ke [insan-monyet], “Kalian datang saja dan makan apa pun yang saya berikan kepada kalian, atas karunia Tuhan.” Tapi kadang, mereka tidak datang. Saya meletakkannya di sana; mereka melihat, tetapi mereka makan sedikit lalu pergi. Dan saya bertanya kepada mereka, “Mengapa begitu? Mengapa kalian tidak makan saat masih segar? Mengapa kalian sisakan sebagian di sini?” Mereka berkata, “Simpan untuk besok, jikalau kami tidak bisa menemukannya di tempat lain, maka kami akan datang dan ada cadangan untuk dimakan.” “Oke, bagus, bagus. Lain kali, saya akan memberi lebih banyak agar kalian tidak perlu khawatir kekurangan makanan. Makan saja lebih banyak.” Dan kemudian, mereka tidak makan. Jadi saya tanya, “Mengapa begitu?” Mereka menjawab, “Oh, makanan yang Anda berikan sangat berharga, jadi kami harus makan sedikit-sedikit.” (Ya.) Para (insan-)monyet itu mengerti segalanya, mereka tahu segalanya.Dan para insan-monyet itu, saya bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian begitu baik? Setiap kali kalian melihat saya, kalian berkata ‘semoga sehat’.” (Ya, Guru.)Mereka berkata, “Woo! Woo!” Itu artinya “semoga sehat”, “semoga sehat”. (Ya, Guru.) [Mereka] berkata, “Saya doakan Anda yang terbaik,” dalam bahasa kita. Tapi bahasa mereka lebih pendek, mereka tidak banyak bicara. Kecuali di dalam. (Ya, Guru.) Kosakatanya, secara fisik, pendek, tapi di dalam, mereka mengutarakan informasi dalam bahasa Inggris sempurna. Bahasa Inggris mereka lebih baik daripada bahasa Inggris saya. Mengingat bahwa mereka berbicara begitu cepat dan tidak perlu berpikir, mencatat, atau apa pun.Saya bertanya ke (insan-)monyet itu, “Mengapa kalian begitu baik, begitu ramah? Setiap kali melihat saya, kalian menundukkan kepala dan berkata, ‘Semoga Anda sehat.’ Mengapa?” Dan mereka menjawab, “Karena Anda adalah Yang Maha Mulia.” (Wah.) Saya berkata, “Siapa yang beritahu itu?” Mereka berkata, “Kami tahu.”Wow, para insan-monyet ini sangat pintar! Mereka melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat mata manusia. Maha Guru Ching Hai berbagi dengan kami percakapan Beliau dengan kepala suku insan-kera, Do.Master: Percakapan dengan (insan-)monyet. “Mengapa kawananmu tidak datang untuk menikmati makanan yang telah saya siapkan di luar?” Dan Do… Do adalah nama kepala suku (insan-)monyet dari kelompok itu. Namanya Do, D-O. (Do. Ya, Guru.) Saya hanya menanyakan namanya, tetapi yang lain, saya tidak bertanya.Jadi saya bertanya kepada mereka, “Oke, mengapa kalian tidak datang menikmati makanan dan buah yang telah saya siapkan untuk kalian?” Itu terjadi pada tanggal 16 Maret. Jadi, Do berkata, “Karena kami bersimpati atas kedamaian-Mu yang terganggu.” Mereka berbicara seperti itu. “Kedamaian-Mu telah terganggu karena Engkau memberi kami makan dan hantu-hantu bengis mengganggu-Mu.” Hantu-hantu bengis terus memperingatkan saya sebelumnya, dan saya mengusir mereka – mereka telah mengganggu dan memperingatkan saya, “Jangan beri makan (insan-)monyet; kalau tidak, kedamaian-Mu akan terganggu.” (Paham.) Saya berkata, “Kalian tidak berhak mengatur saya.” (Mengerti, Guru.) Saya lakukan apa yang saya lakukan. (Ya, Guru.) Tapi mereka sungguh mengganggu kedamaian saya di awal. Saat saya pertama kali datang, oh, mereka buat segala macam masalah, berisik dan mengancam atau menakutkan dan segala macam hal. Bukan hanya ular itu. Ya? (Ya, Guru.)Jadi, saya berkata kepada (insan-)monyet itu, Do. “Tak apa-apa, bukan masalah besar. Mereka menagihmu untuk apa? Apa yang mereka lakukan padamu?” Dan Do berkata, “Karena mencuri makanan-Mu, buah-buahan, sayuran, akar-akaran dari ladang-Mu, kebun-Mu.” “Kalian tidak melakukannya. Saya mengizinkan kalian. Saya sudah memberi tahu kalian dan kalian bisa mengambil apa pun yang kalian inginkan.” Maka saya berkata kepada para hantu bengis itu, “Saya sudah beri tahu kalian semua agar tahu dan tidak mengganggu para (insan-)monyet itu. Saya ingin mereka berbagi apa yang saya miliki.” Jadi Do: “Mereka khawatir kami mencintai Anda. Anda mencintai kami. Maka kami tidak akan mencintai Maya.” Anda tahu, si iblis, (Ya.) si Setan. Itulah sebabnya kami dilarang kembali.”Saya berkata, “Tidak. Saya sudah mengumumkan bahwa apa pun yang saya miliki di wilayah saya, kalian bisa memilikinya. Semua (insan-)hewan bisa memilikinya. Saya tidak butuh. Saya tidak butuh akar, buah, apa pun. Dan saya juga memberimu buahnya.” Dan saya berkata, “Tuhan memberikannya kepadamu. Bahkan saya tidak mengklaim pujiannya. Jadi, kamu tidak mencuri apa pun. Kamu hanya perlu kembali dan ambil apa pun yang ada di sana.” Tetapi mereka berkata mereka takut para iblis bengis juga akan mengganggu saya karena itu. Saya berkata, “Jangan khawatir. Saya akan mengusir mereka.” Roh-roh bengis itu amat buruk.Sungguh indah melihat bagaimana cinta mengalir dua arah. Maha Guru Ching Hai peduli pada insan-monyet; memberi mereka makan, dan perlakukan mereka dengan baik, dan responsnya mereka tunjukkan kasih, tulus terhadap kesejahteraan dan kedamaian Beliau.Insan-tupai bukan hanya lucu —tidak! Mereka bola-bola bulu kecil yang bijaksana. Mereka juga membawa “pesan” kepada Maha Guru Ching Hai, sebagai cara khusus mereka untuk berterima kasih karena telah menjadi teman yang begitu lembut bagi semua makhluk.Master: Pada tanggal 10 Juli, “Para (insan-)tupai datang dari mana-mana.” Dari gunung di mana sebelumnya saya memberi makan mereka (Ya.), mereka semua datang menemui saya. (Wah! Manis sekali! Baik sekali.) Oh, seluruh kelompok. Dan lalu saya pikir mereka lapar. Saya ingin memberi mereka sesuatu. Saya beri apapun yang saya punya, tetapi mereka tidak memakannya. Mereka hanya datang dan memberitahu saya sesuatu. Saat mereka datang, mereka hanya berlarian di sekitar tempat saya sebentar, dan mencicit, dan berbicara dan menari, (Oh, wah.) dan memberi tahu saya tentang itu.Jadi, semua (insan-)tupai datang dan menari-nari. Dan saat saya bicara dengan mereka, saya berkata, "Hei, apa kabar, sobat? Terima kasih telah berkunjung.” Dan para (insan-)tupai itu berbaring tengkurap. (Wah!) Mereka tidak kabur dari saya, mereka hanya berbaring dan diam dan hanya menatap saya dan mendengarkan saat saya berbicara. (Ya Tuhan! Lucu sekali!)Saya juga terkejut. Saya tak pernah melihat ini sebelumnya. Biasanya (insan-)tupai liar, ketika Anda mendekat, mereka kabur. (Ya.) Tapi, mereka berbaring tengkurap begitu saja, rata di batang pohon. Rata, benar-benar rata! Serata mungkin, seolah-olah sedang bersujud. (Wah!) Menatap saya dan mendengarkan terus sampai saya selesai. SayaMereka tidak mencicit lagi. Mereka tidak bersuara, mereka tidak bergerak. Lalu saya tanya, “Mengapa kamu berbaring tengkurap? Tampak sangat aneh.” Dia jawab, "Memberi hormat kepada Guru.” Itu yang dia katakan. (Wah.) Jadi, sekarang, lalu dia... Siapa yang mengatakan ini? Tunggu sebentar. Oh, mereka juga berkata, “Jadilah Anda pemaaf kepada murid yang tidak setia.” Mereka menyebutkan nama orang itu. Ya, saya tahu itu. Dia mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan saya juga. Saya bahkan memberitahu orang itu di depan mata, dan orang itu memberitahu saya, “Oh, terima kasih, (insan-)tupai! Ya Tuhan, (insan-)tupai, kenapa kamu mengatakan hal seperti itu?” Tapi, itu benar.Suatu kali, insan-tupai mendengar Dia berbicara dengan sangat lembut dari dalam rumah, meminta mereka untuk diam sementara Dia bermeditasi. Dan tebak yang terjadi selanjutnya? Mereka langsung berhenti berisik!Master: Saya beri makan para (insan-)tupai dan mereka begitu bahagia, bernyanyi begitu lantang di pagi hari Saya berkata, “Hei, kamu bisa makan, tapi kamu tak boleh bernyanyi, oke? Saya mengenalmu. ‘Terima kasih’ dan semacamnya, tapi kamu tidak harus melakukannya karena saya perlu bermeditasi di pagi hari.” Dan sejak saat itu… Yah. Dan satu atau dua kali, mereka lupa, dan mereka mendekut, berdekutan, karena mereka saling memanggil atau bernyanyi bahagia, segala macam suara, seperti paduan suara. Jadi, saya bahkan berkata dari dalam rumah saya, di dalam kamar saya, saya tidak membuka jendela untuk memberitahu mereka. Saya berkata, “Hei! Diamlah, bung! Saya sudah beritahu. Diamlah.” Kemudian mereka diam begitu saja, mendadak, dengan seketika, tidak ada lagi suara. Mereka mengerti segalanya! Mereka hidup di alam liar; mereka begitu murni. Mereka begitu murni. Kemampuan mereka untuk menerima pesan begitu cepat. Benar-benar seperti itu! Dan mereka tidak pernah berdekut lagi.Mereka hanya datang dan makan. Dan mereka menyukai segala jenis makanan yang saya beri. Saya tidak selalu memberikan makanan yang sama, tidak. Saya kadang memberi kacang dan biji-bijian yang berbeda-beda. Dan saya memberi mereka jagung, dimasak, sudah dimasak atau segar, mereka menyukainya, mereka mengunyahnya. Saya memiliki beberapa foto atau beberapa video. Mungkin suatu hari Anda bisa melihatnya. Mereka memakan jagung lalu mereka membalik jagungnya untuk memakan sisi yang lain. Sangat lucu, dan kadang kala, mereka melihat saya mengintip ke luar untuk melihat dan mereka bersembunyi. Mereka sedang makan di depan pohon, di depan saya, dan saat mereka melihat saya mengintip ke luar, mereka berbalik ke sisi yang lain, di belakang pohon dan memakan jagung saya. Saya berkata, “Saya masih bisa melihatmu! Saya masih melihat gerakanmu!” Begitu lucu. Mereka mengerti segalanya, ya Tuhan! Luar biasa.Setiap makhluk mengerti cinta. Seperti matahari: hangat, lembut, dan dimaksudkan untuk dibagikan. Dan jika Anda membiarkan cinta itu tumbuh di hati Anda, itu dapat mencapai meja Anda dengan memilih pola makan nabati yang menunjukkan kebaikan sejati kepada semua insan-satwa, besar atau kecil. Itulah welas asih sejati.










